Keluarga Miskin, Perlu Ada Katagori yang Jelas

  • 07 Maret 2007
  • Oleh: pendidikan
  • Dibaca: 3750 Pengunjung
Keluarga Miskin, Perlu Ada Katagori yang Jelas Pemerintah selalu berusaha agar semua bangsa memperoleh pendidikan yang layak sekalipun orang tua atau keluarga si anak tergolong miskin. Bukan pemerintah sekarang saja peduli akan bantuan dana pendidikan, tetapi juga pemerintahan sebelumnya. Dulu ada beasiswa Supersemar, beasiswa atas prestasi. Pemerintah sekarang mengeluarkan dana BOS, selain beasiswa atas prestasi siswa, maupun beasiswa lainnya. Pemerintah juga menyediakan beasiswa untuk anak yang orang tuanya benar-benar kurang mampu. Bahkan, di tingkat sekolah ada yang menerapkan model subsidi silang, orang tua anak yang mampu membantu anak yang kurang mampu. Selain pemerintah, berbagai pihak telah peduli dengan dana pendidikan. Beberapa bank, telah memberikan beasiswa. Memang harus diakui, dibandingkan jumlah anak yang memerlukan bantuan dana dengan pihak pemberi beasiswa belum seimbang. Agar bantuan tidak salah sasaran, diperlukan pendataan secara seksama. Sekolah yang menjadi ujung tombak dunia pendidikan harus memiliki data akurat tentang kondisi anak yang berasal dari keluarga miskin.Berdasarkan laporan dari pihak sekolah, data di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Denpasar tercatat anak yang berasal dari keluarga miskin sebagai berikut : siswa SD 300 orang, siswa SMP 300 orang, dan siswa SMA/SMK sebanyak 339 orang. Mungkin ada yang bertanya, apa kriteria masyarakat miskin itu ? Akibat kriteria kategori miskin belum jelas, masyarakat yang tergolong miskin sering menjadi bahan perbincangan. Persyaratan pemberian beasiswa adalah anak yang orang tuanya kurang mampu (miskin), ternyata beasiswa jatuh ke tangan anak yang orang tuanya mampu, bahkan orang tua yang punya mobil. Ada seorang guru di suatu sekolah menjadikan dirinya miskin, minta keringanan anaknya dalam kewajiban membayar padahal ia mampu untuk itu, terbukti ia bawa mobil ke sekolah. Kriteria miskin dalam dunia pendidikan mirip dengan kriteria miskin di masyarakat. Adakah kriteria yang dapat dipercaya? Hampir tidak ada, bukan? Kalaupun ada sangatlah relatif sifatnya. Sedikit ada kesamaan ketika akan mendapat tunjangan tunai langsung (BLT). Banyak orang mengaku miskin. Akhirnya yang mendapat BLT kurang layak disebut miskin karena memiliki motor, telepon genggam (HP). Menyebut diri miskin agar mendapat bantuan diharapkan tidak terjadi di dunia pendidikan. Di masyarakat tidak ada ukuran yang pasti untuk mengelompokkan seseorang itu miskin atau tidak. BPS (Biro Pusat Statistik) telah menetapkan Kriteria yang jelas tentang masyarakat miskin. Misalnya, dari sisi konsumsi pada batas 2100 kalori perkapita. Jika kurang mencapai jumlah itu, maka dikelompokkan masyarakat miskin. Itu Kriteria kebutuhan jasmani. Di BPS ada beberapa variabel yang dijadikan Kriteria miskin disertai bobot masing-masing, diantaranya : sumber air (PAM); asset yang dimiliki (tabungan, ternak); bahan bakar yang digunakan untuk masak; pakaian; frekuensi makan setiap hari; dinding rumah; jamban keluarga; jenis bahan lantai rumah; luas lantai rumah; konsumsi daging, ayam, susu; lapangan pekerjaan; kemampuan berobat; pendidikan; penerangan lampu dalam rumah. Kategori masyarakat miskin di dunia pendidikan perlu dibuatkan kriteria yang jelas. Seorang anak yang ke sekolah memakai sepeda motor, perlu dipertimbangkan apakah orang tuanya masuk katagori miskin. Yang lain, beberapa kali menunggak uang bulanan yang menjadi kesepakatan orang tua yang terwadahi dalam komite sekolah karena lalai. Dapatkah kedua kondisi ini dikatakan berlatar belakang orang tua yang miskin? Namun ada persoalan yang lebih penting yakni tidak “memiskinkan” diri sendiri sehingga selalu minta gratis dana pendidikan padahal sesungguhnya tidak ada pendidikan yang benar-benar “gratis”. Jika sejumlah orang selalu mendengung-dengungkan pendidikan gratis, apalagi sebagai komuditas politik, perlu dipertanyakan. (IGK Tribana).

  • 07 Maret 2007
  • Oleh: pendidikan
  • Dibaca: 3750 Pengunjung

Artikel Terkait Lainnya

Ir. I Gusti Ngurah Eddy Mulya, SE, M.Si

Apakah Informasi yang tersaji pada Website Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, bermanfaat bagi Anda?