Pendidikan Mendatang

  • 07 Maret 2007
  • Oleh: pendidikan
  • Dibaca: 886 Pengunjung
Pendidikan Mendatang Pesatnya pertumbuhan, perubahan, ataupun perkembangan informasi dan komunikasi sangat diwarnai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. IPTEK tumbuh dan berkembang dalam paradigma keilmuan lahir dari para cerdik cendekia yang bekerja dan belajar di sekolah, laboratorium, atau lainnya. Ujung-ujungnya sekolah adalah tempat para akhli terlahir, dilahirkan, dan tentu juga, melahirkan. Pendidikan adalah pilar bagi pembangunan. Pembangunan adalah perubahan! Pertanyaannya adalah pembangunan “perubahan” macam mana yang kita mau atau inginkan? Adakah perubahan tersebut karena ikut-ikut-an, keterpaksaan, tidak ada pilihan? Tidak ! Perubahan harus direncanakan, termasuk didalamnya pendidikan. Pendidikan yang berbasis ajar adalah memendam makna berubah, dari tidak tahu menjadi tahu! Untuk menjadi tahu maka rasa ingin tahu harus ditumbuh kembangkan. Media ingin tahu dapat dilakukan melalui membaca, melihat, dan mendengar. Abad ini yang ditandai dengan kejayaan komunikasi berakibat pada masyarakat cenderung memenuhi keingintahuannya melihat dan mendengar melalui televisi. Televisi sudah merasuk kepada seluruh insan dengan kemampuan daya serapnya masing-masing. Tayangan TV menjadi santapan utama sekaligus rekreasi murah disaat masyarakat butuh hiburan! Sanggupkah kita melarang anak-anak menonton pada saat jam belajar? Atau maukah pihak TV mengatur jam tayang sesuai dengan kebutuhan kaum pelajar apalagi wilayah kita sudah dibingkai tiga waktu? (WIB, WITA, WIT). Budaya kertas dalam kecanggihan teknologi sepertinya dalam abad ini hingga ke depan akan tidak tergantikan. Disamping sulitnya memperoleh buku orisinal berbahasa Indonesia, harga buku juga relatif mahal sehingga menjadi alasan untuk tdk membeli dan akhirnya membaca buku cukup dari apa yang diberikan guru (jangan–jangan guru juga kesulitan dana untuk membeli buku baru). Jika demikian adanya kapan budaya baca tumbuh dan berkembang? Dapatkah kecerdasan berkembang tanpa membaca? Terlebih pada era globalisasi ini salah satu media atau sarana pendidikan sudah dapat dilakukan dan dilayani melalui dunia maya yang berbasis pada e-learning. Bagi Kota Denpasar yang menyadari bahwa pendidikan merupakan pilar budaya telah memulai pendidikan dengan konsep cyber school. Selamat ! Cukupkah ? Akankan pendidikan maya menggantikan PBM yang mengutamakan tatap muka. SDM mendatang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual belaka, selebihnya harus memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang umumnya porsi terbesar darinya diperoleh pada ekstra atau dilingkungan mereka tinggal dan bermasyarakat. Kemampuan kerjasama, daya saing, kewirausahaan dan kepemimpinan justru diperoleh ketika materi soft skill sudah diberikan sejak dini termasuk nasionalisme yang diberikan dalam bentuk bela negara. Sudahkanh kita para pelaku pendidikan melakukannya ? Semoga. (Putu Rumawan Salain)

  • 07 Maret 2007
  • Oleh: pendidikan
  • Dibaca: 886 Pengunjung

Artikel Terkait Lainnya

Ir. I Gusti Ngurah Eddy Mulya, SE, M.Si

Apakah Informasi yang tersaji pada Website Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, bermanfaat bagi Anda?