Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website Dinas Pendidikan, Pemuda & Olahraga Kota Denpasar, bermanfaat bagi Anda?
Baca Berita

Pentingnya ‘’Need for Achievment’’ untuk Pendidikan Karakter

Oleh : nakididnep | 28 Agustus 2017 | Dibaca : 120 Pengunjung

Pendidikan karakter yang saat ini mulai digalakkan di sekolah bukanlah jargon. Penguatan pendidikan karakter harus dipraktikkan dan diamalkan di sekolah.

‘’Membangun karakter budaya bangsa sangat penting terus dikembangkan. Apalagi pendidikan  karakter  menjadi bagian penting dalam Kurikulum 2013 (K-13). Dalam K-13 pengembangan sikap menjadi hal penting untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas,’’ ujar Ketua PGRI Kota Denpasar, Nyoman Winata, Rabu (23/8).

Winata menegaskan, pendidikan karakter erat kaitannya dengan budaya bangsa. Guru, kata dia, memegang peranan penting untu masa depan bangsa. Dengan pendidikan karakter, SDM masa depan kita makin baik dan makin kecil tindak korupsinya. Hanya saja dia tekankan sebelum ke pendidikan karakter, sistem pendidikan kita harus diarahkan ke sana terlebih dahulu.

‘’Pendidikan bukan hanya urusan sekolah. Untuk membangun pendidikan karakter kita bisa menonton cerita kesuksesan orang lain. Jokowi bisa dijadikan contoh bahwa orang desa itu bisa menjadi presiden,’’ ujarnya.

Winata mengungkapkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang warganya paling banyak kena visus need for achievment atau keinginan berprestasi. Prestasi itu tak hanya meraih juara, namun bisa  berupa karakter  suka menolong, disiplin serta menghargai orang lain.

Ia menambahkan, materi koran bisa dimanfaatkan sebagai pendidikan karakter  di kelas bisa berupa foto atau lewat berita. Guru bisa mengggunakan media koran untuk mentransformasikan nilai-nilai pendidikan karakter  seperti tanggung jawab, disiplin diri dan sebagainya.

Sementara itu, Kadisdikpora Kota Denpasar, I Wayan Gunawan, menegaskan, pendidikan karakter harus dilaksanakan sejak usia dini, karena usia dini merupakan periode perkembangan yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

“Pendidikan karakter tidak hanya membuat anak itu menjadi cerdas intelektual, juga cerdas hati nurani (emosional) dan sosial serta tak mengesampingkan spritual. Dengan begitu, tugas lembaga pendidikan mampu melahirkan anak yang cerdas tapi tidak sombong,” tegas Wayan Gunawan.

Pendidikan karakter, jelas Wayan Gunawan, tidak akan berhasil kalau orang-orang yang diamanatkan untuk mendidik bukanlah yang berkarakter. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus dimulai dari guru yang berkarakter dan profesional.

‘’Pendidikan pendidikan karakter berkaitan erat dengan persoalan hati manusia, bukan persoalan otak (akal) semata. Karena itu tidak dapat diukur dengan angka-angka, seperti selama ini dilakukan. Pendidikan karakter membutuhkan figur yang dapat dijadikan rujukan untuk dicontoh. Ketiadaan figur yang seperti ini membuat pendidikan karakter semakin abstrak,’’ ungkapnya.

Menurutnya, membentuk karakter bukanlah sekadar mengajarkan kepribadian. Sebab, kepribadian tidaklah sama dengan karakter. Strategi pendidikan karakter yang paling sederhana adalah melalui figur.

Strategi pendidikan karakter lainnya yaitu melalui keteladanan, pendidikan yang berkesinambungan, kegiatan intrakurikuler, dan kegiatan ekstrakurikuler. Semua hal tersebut hanya bisa dilakukan oleh guru yang berkarakter dan profesional.

Lebih lanjut dikatakan Wayan Gunawan, pembentukan pendidikan karakter tak hanya bisa dilimpahkan pada lembaga pendidikan. Diperlukan sinergi antar sekolah, keluarga dan masyarakat. Ketiga unsur tersebut harus saling mendukung untuk peningkatan pembentukan karakter peserta didik.

‘’Jika tidak ada ketidaksinergisan ini, pembentukan karakter peserta didik menjadi parsial, dan tidak holistik, akibatnya muncul gejala anak yang bersikap baik di sekolah tetapi di luar sekolah berperilaku kurang baik,’’ katanya.

Atau sebaliknya di rumah dalam lingkungan keluarga menunjukan sikap yang baik tetapi di luar rumah terlibat geng motor, narkoba dan senang tawuran. Sikap inkonsistensi para peserta didik ini salah satunya diakibatkan kurang sinerginya antara pendidikan sekolah dan keluarga serta masyarakat.


Oleh : nakididnep | 28 Agustus 2017 | Dibaca : 120 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



Facebook
Twitter